Senin, 02 Mei 2016

SEPATU DAN SEPEDA DAHLAN

SEPATU DAN SEPEDA DAHLAN

Inilah hari dengan kesedihan tak
berkesudahan. Batinku meraung-raung meratapi ketidakberdayaan. Kami bukan orang asing bagi rasa lapar… Mata berkunang-kunang, keringat bercucuran, lutut gemetaran, telinga mendenging-denging… Sungguh, aku butuh tidur, sejenakpun rasanya bisa memulihkan kekosongan tenagaku.

Tetapi, aku tahu tidak akan bisa tertidur dengan mudah. Kehidupan mendidik Dahlan kecil dengan keras. Baginya, rasa perih karena lapar adalah sahabat baik yang enggan pergi. Luka di kakinya menjadi bukti Perjuangan dalam menjalani hidup. Dia harus berjalan puluhan kilometer untuk bersekolah tanpa alas kaki. Sepulang sekolah banyak pekerjaan yang harus dilakoninya demi sesuap tiwul, mulai dari nguli nyeset, nguli nandur sampai membantu Emak kandungnya berdagang kecil – kecilan keliling kampung. Dan di usia mudanya, Dahlan hampir tidak mempunyai waktu untuk sekedar bermain dengan teman seusiannya.

Dahlan sudah banyak merasakan kehilangan. Buku catatan hariannya pun dipenuhi curahan kegalauan hati yang selalu dia alami. Setiap kali terpuruk seringkali dia berkata pada dirinya sendiri, " hidup, bagi orang miskin sepertiku, harus dijalani apa adanya!". Didikan keras sang Ayah Angkat dan Mama angkatnya juga kakak-kakak tercintanya serta senyum sang adik angkatnya, Emak kandungnya selalu bisa membuatnya bertahan dan terus berjuang dalam hidup. Selain itu, di atas segala luka dan kesedihan yang dialaminya sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) Dia punya dua pilihan cita-cita besar yang membuatnya semakin bekerja keras: sepatu dan sepeda. Buku dan Pena

Gema suara Adzan subuh terdengar merdu berkumandang, Bagi sebagian orang mungkin merasa terusik mimpinya. Namun bagi bocah bernama Dahlan ini langsung terperanjat singkirkan kain sarung yang menyelimuti tidur letihnya semalam. menuju masjid yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sementara sang Emak sudah harus siap-siap dengan bakul gendongnya untuk belanja ke pasar yang nantinya akan dijual lagi keliling kampung, jaraknya lumayan jauh sekitar 4 kilo meter. Itupun ditempuh dengan berjalan kaki.

Sepulang sholat berjamaah, Dahlan juga harus mempersiapkan buku sekolah, seragam merah putihnya, dagangan yang nantinya harus dia jual di sekolah Dahlan. Sedari semalam sang Emang memang sudah mempersiapkan apa-apa yang sekirannya akan di jual Dahlan. Pukul 06:00 Dahlan sudah harus berjalan menuju Sekolah dia, Tas butut mengelayut di pundaknya, Tangan kanan memegangi Karung yang membawa dagangannya. tangan kiri memegang sepatu tersayangnya. Walaupun yang sebelah kiri sudah bolong akibat di makan tikus. Namun Dahlan tetap menyayanginya. Batu kerikil tajam seakan sudah hafal dengan langkah demi langkah kaki mungil Dahlan.

(BERSAMBUNG...)

Panas perihpun seakan semakin membentuk pribadi bocah sembilan tahun itu


http://www.budiwinata.wordpress.com/ http://www.penaannabudi2005.wordpress.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar